Namanya Leonardus Benjamin Moerdani, lebih dikenal sebagai Benny Moerdani atau L.B. Moerdani. Leonardus Benjamin Moerdani adalah salah satu Jenderal paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam bidang intelijen.
![]() |
| Jenderal Benny Moerdani |
Benny Moeddani lahir di Blora
tanggal 2 Oktober 1932 atau tepatnya di Cepu pada masa kolonial Hindia Belanda.
Benny Moerdani lahir dalam keluarga campuran, ayahnya adalah seorang muslim bernama
R.G. Moerdani Sosrodirjo dan ibunya adalah seorang berdarah campuran
Indonesia-Eropa(Jerman) atau dikenal dengan nama Indo, bernama Jeanne Roech.
Ayahnya R.G. Moerdani Sosrodirjo
adalah seorang pegawai Nederland Indische
Spoorweg Maatschappij alias perusahaan kereta api Hindia Belanda. Ibunya
adalah seorang guru TK pada saat itu. Benny Moerdani adalah anak ke-3 dari 11
bersaudara. Benny Moerdani besar di keluarga campuran yang meskipun ayahnya
Moerdani Sosrodirjo adalah seorang muslim, ia mentolerir istri dan anak-anaknya
mengimani Katolik.
Tahun 1945 usia Benny Moerdani
sekitar 13 tahun, di sinilah perjalanan kisah militer Benny Moerdani dimulai.
Salah satu peristiwa penting yang diikuti Benny Moerdani ketika itu adalah ikut
dalam penyerangan kempetei di Solo pada 12 Otober 1945. Tak lama setelahnya
Benny bergabung dengan tentara pelajar. Saat itu adalah masa-masa pembentukan
Tentara Keamanan Rakyat(TKR) yang merupakan cikal bakal ABRI.
Benny Moerdani kemudian masuk
Pusat Pendidikan Angkatan Darat (P3AD). Dalam buku “Benny : Tragedi Seorang
Loyalis” Julius Pour menyebutkan bahwa Benny Moerdani muda memulai pelatihan
pada 1951 dan terpilih mengikuti pendidikan tambahan di Sekolah Pelatih
Infanteri(SPI). Ia lulus pada tahun 1952 dengan pangkat Letnan Cadangan
(Pembantu Letnan Satu). Dalam kariernya Benny Moerdani pernah ditempatkan
sebagai instruktur dalam Sekolah Kader Infanteri. Benny Moerdani resmi menjadi
perwira militer professional saat usianya sekitar 22 tahun pada 4 Juli 1954
dengan pangkat Letnan Dua Infanteri.
Penempatan pertamanya setelah
berpangkat Letnan Dua Infanteri Benny Moerdani ditempatkan di Kodam Siliwangi
di Jawa Barat.
Benny Moerdani dikenal sebagai
seorang yang berani dan heroik, salah satu diantara yang paling terkenal adalah
kesuksesannya dalam operasi ‘Naga’ dalam operasi pembebasan Irian Barat. Tahun 1962
Benny Moerdani yang saat itu berpangkat Kapten sukses memimpin operasi perintis
di Merauke, Papua. Operasi ini memberi jalan atas mulusnya operasi militer
besar-besaran yang digelar guna merebut Irian Barat. Berkat jasannya ini Benny
Moerdani mendapat penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno.
Namun di sisi lain keberanian
Benny Moerdani ini juga sempat membuat karier militernya terhambat. Hal ini
dikarenakan di tahun 1964 ia berani memprotes rencana penghapusan tentara cacat
dari RPKAD, ia berpendapat bahwa sebagai prajurit yang cacat karena operasi di
Irian Barat adalah sebagai pahlawan bukan prajurit yang harus dibuang. Benny Moerdani
yang dianggap membangkang atas perintah Panglima Angkatan Darat saat itu yaitu
Letnan Jenderal Ahmad Yani, Benny Moerdani dipindahkan dari RPKAD ke Kostrad.
Setelah masuk Kostrad inilah
Benny Moerdani mulai bersentuhan secara intens dengan dunia intelijen. Benny Moerdani
ditarik oleh salah satu pejabat Kostrad yakni Ali Moertopo yang juga orang
kelahiran Blora menunjuknya sebagai wakil asisten intelijen. Tugas-tugas Benny
Moerdani selama di Kostrad dalam dunia intelijen salah satunya adalah terlibat
dalam operasi intelijen di Malaysia saat Indonesia berkonfrontasi dengan
Malaysia karena pilihan politik Presiden Soekarno saat itu. Akan tetapi ia juga
menjadi tim yang mempersiapan perundingan normalisasi hubungan
Indonesia-Malaysia setelah Soeharto menjadi pejabat Presiden.
Tahun 1974, tak lama setelah peristiwa Malari, Benny Moerdani juga ditarik Ali Moertopo untuk menangani masalah-masalah intelijen Hankam. Ia kemudian ditunjuk menjadi pejabat asisten intelijen menteri pertahanan dan keamanan. Benny Moerdani juga memegang jabatan-jataban lain di dunia intelijen Indonesia.
Prestasi besar lainnya dari Benny Moerdani adalah saat ia merencanakan dan memimpin sendiri pembebasan sandera dalam insiden pembajakan pesawat Garuda Indonesia Woyla di bandara Don Muang Bangkok, Thailand pada 31 Maret 1981. Saat itu pangkatnya sudah Letnan Jenderal (Letjen) TNI dan menjawat sebaga Kepala Pusat Intelijen Strategis (Kapusinterlstrat). Dalam operasi ini Letjen Benny Moerdani menggalang pasukan sendiri dengan bantuan pasukan Kopassus yang direkrut secara mendadak. Operasi pembebasan sandera ini berjalan sukses sehingga para perwira yang terlibat di dalamnya mendapatkan anugerah kehormatan.
Dalam dunia intelijen Indonesia
pada saat menjabat Benny Moerdani menjadi tokoh intelijen yang paling dipercaya
oleh Presiden Soeharto setelah Ali Moertopo. Benny Moerdani juga berhasil
mengkonsolidasikan berbagai Badan Intelijen Negara hingga akhirnya baran
intelijen ini benar-benar di bawah kontrol dan kendalinya.
Benny Moerdani tidak pernah
memegang jabatan komando di unit yang lebih besar dari batalyon, akan tetapi
pada tahun 1983 Benny Moerdani dipromosikan menjadi Jenderal penuh oleh
Presiden Soeharto dan diangkat sebagai panglima ABRI. Benny Moerdani adalah
orang yang loyal terhadap Negara, dan karena jabatan Panglima ABRI inilah yang
membuat Benny Moerdani memiliki kekuasaan yang sangat besar pada masa pemerintahan
Presiden Soeharto. Akan tetapi jabatan ini pula yang membuat Benny Moerdani
dikenal sebagai Jenderal yang kontroversial karena penuh intrik dan juga tragedi.
Benny Moerdani juga dikenal sebagai Jenderal yang jarang tersenyum atau unsmiling general hal ini tentu berbeda
terbalik dengan Jenderal Soeharto yang dikenal sebagai smiling general.
Selain pernah menjabat sebagai Panglima ABRI(1983-1988) Jenderal Benny Moerdani juga pernag menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan(Menhankan) dalam Kabinet Pembangunan V pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1988-1993 setelah masa jabatannya sebagai Panglima ABRI berakhir.
Jabatan-jabatan yang pernah dijabat Benny Moerdani dalam jabatan komando keamanan dan intelijen diantaranya :
- Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pankopkamtib) - merangkap jabatan ini pada saat menjadi Panglima ABRI.
- Kepala Pusat Intelijen Strategis (Kapusintelstrat) jabatan ini kini dikenal sebagai Kepala BAIS TNI.
- Asisten Intelijen Hankam/ABRI
- Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Waka BAKIN)

0 Comments:
Posting Komentar